Reel Density Analysis Kepadatan Simbol Mahjong Ways 2 Scatter Trigger Mapping Free Spin Mahjong Ways 2 Symbol Volatility Study Pola Pembayaran Mahjong Ways 2 Grid Expansion Effect Multiplier Mahjong Ways 2 Wild Frequency Mapping Distribusi Simbol Wild Mahjong Ways 2 Cluster Formation Index Pembentukan Klaster Simbol Mahjong Ways 2 Reel Transition Pattern Mode Free Spin Mahjong Ways 2 Multiplier Growth Model Dinamika Pengali Mahjong Ways 2 Symbol Drop Probability Probabilitas Simbol Tinggi Mahjong Ways 2 Spin Cycle Observation Pola Siklus Spin Mahjong Ways 2 Analisis Pola Momentum Spin Mahjong Wins 3 Fase Potensial Pendekatan Observatif Transisi Ritme Gates of Olympus Studi Dinamika Simbol Wild Konsistensi Sesi Digital Strategi Adaptif Pola Sesi Panjang Mahjong Wins 3 Analisis Sinkronisasi Visual Ritme Gates of Olympus Membaca Pola Scatter Aktif Indikator Perubahan Fase Pendekatan Sistematis Identifikasi Stabilitas Sesi Slot Digital Peran Variasi Tempo Spin Alur Permainan Mahjong Wins 3 Analisis Perubahan Pola Simbol Momentum Gates of Olympus Studi Ritme Interaksi Simbol Dinamika Sesi Digital

Ujungpandang Pos

Peka, Berani & Jujur

An-Nadzir Gowa Tetapkan 1 Ramadan 1447 H pada 18 Februari 2026

|

GOWA, UPOS – An Nadzir menetapkan 1 Ramadan 1447 H, jatuh pada hari Rabu, 18 Februari 2026. Bagi yang ingin melaksanakan salat tarwih berjamaah, dipersalahkan mulai Selasa malam, 17 Februari 2026 hingga tiga malam ke depan di daerahnya masing-masing, dan sesudahnya dilaksanakan secara infirodi (sendiri).

Hal tersebut, disampaikan Pimpinan An Nadzir, M Samiruddin Pademmui, melalui keterangan tertulisnya, Senin, (16/2/2026).

Ia menjelaskan, pada umumnya ummat muslim di Indonesia, mengetahui bahwa salah satu komunitas muslim yang seringkali berbeda waktunya dalam menetapkan 1 Ramadan, 1 Syawal dan 10 Dzulhijjah dengan umat Muslim lainnya di Indonesia adalah An Nadzir.

Perbedaan itu, sebenarnya lebih disebabkan oleh adanya perbedaan tata cara, metodologi dan ilmu yang dipahami dan dipakai dalam pengamatan, perhitungan dan menetapkan awal dan akhir bulan.

“Secara umum, baik An Nadzir maupun umat muslim lainnya, sama-sama memahami tentang ilmu hisab dan rukyat. Yang berbeda adalah penerapan ilmu, tata cara, dan metodologinya. Dan dalam banyak hal yang berkaitan dengan fiqih dan khilafiah, sudah lama terjadi perbedaan di kalangan umat muslim. Sehingga dibutuhkan kedewasaan, arif bijaksana, sabar dan membuka wawasan. Lalu disertai dengan adanya motivasi untuk terus belajar dan mengkaji ilmu pengetahuan. Sebab ilmu Allah itu memang sangat luas dan tak terbatas,” terangnya.

An Nadzir, kata Samiruddin, dalam memantau dan menghitung, kemudian menetapkan awal dan akhir bulan, selain mengacu pada dalil naqli (Al Qur’an dan Hadits, juga dalil aqli (ilmu, tata cara dan metodologi) yang sumbernya diajarkan oleh Guru dan Imam An Nadzir KH Syamsuri Abdul Madjid.

Ilmu tata cara dan metodologi pengamatan dan perhitungan bulan yang dipahami oleh An Nadzir, dalam perkembangan selanjutnya, dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi antariksa serta astronomi, yang kemudian terkoneksi dengan beberapa aplikasi dalam handphone Android, maka An Nadzir melalui Tim Pemantau Bulan, mencoba melakukan penelitian dari beberapa aplikasi dimaksud.

“Dari hasil penelitian yang dilakukan beberapa tahun terakhir, ilmu tata cara dan metodologi pengamatan, dan perhitungan bulan yang dipahami dan dipakai oleh An Nadzir selama ini, hasilnya menunjukkan bahwa tidak ada pertentangan hasil perhitungan awal dan akhir bulan dari beberapa aplikasi yang ada di handphone Android itu. Bahkan sebaliknya ada kolerasi, persamaan, dan bisa lebih memudahkan kita dalam hal melihat waktu terjadinya perpisahan bulan (konjungsi/ijtima/new moon), tanpa harus meraba-raba,” jelasnya.

Ia memaparkan, berdasarkan hasil pemantauan dan perhitungan dari Tim Pemantau bulan An Nadzir di beberapa tempat/daerah Indonesia, hasilnya menunjukkan, 1 Syaban 1447 H bertepatan dengan Senin, 19 Januari 2027 M. Dimana pergantian bulan (konjungsi/ijtima/new moon) terjadi pada dini hari jam 02.51 WIB dan 03.53 WITA. Hasil pengamatan Tim Pemantau untuk tiga bulan purnama 14, 15, dan 16, bertepatan dengan hari Ahad, Senin, Selasa, tanggal 1, 2, dan 3 Februari 2026 M.

Kemudian, pada tanggal 28 Syaban 1447 H bertepatan dengan Minggu, 15 Februari 2026, bulan terbit di ufuk timur pukul 04.02 WITA dan tenggelam di ufuk barat pukul 16.45 WITA. Tim Pemantau melihat bulan sabit di Timur dengan kain tipis hitam, nampak bulan sabit bersusun tiga yang berarti aslinya satu, bayangannya dua, artinya bulan sabit tua masih terbit dua kali lagi di ufuk timur, yakni 29, dan 30 Syaban 1447 H, yang bertepatan dengan hari Senin, dan Selasa, tanggal 16, dan 17 Februari 2026.

“Bulan Syaban genap terhitung 30 hari, dan pada akhir Syaban 1447 H / 2026 M, bulan terbit di ufuk timur pukul 05.44 WITA dan masih sampai tenggelam di ufuk Barat jam 18.18 WITA,” ungkapnya.

Pada hari Selasa, 17 Februari 2026, terjadi perpisahan bulan (kongjungsi/ijtima/new moon) pada malam hari pukul 20.03 WITA dan pukul 19.01 WIB dari bulan Syaban ke Ramadan 1447 H / 2026 M.

Hal ini juga diperkuat dengan terjadinya peristiwa Gerhana Matahari Cincin (Annular Solar Eclipse) di Benua Eropa, khususnya di Antartika dan Amerika Selatan. Meskipun di Indonesia tidak nampak karena waktunya bertepatan malam hari.

“Mengingat Guru dan Imam An Nadzir KH Syamsuri Abdul Majid yang pernah mengajarkan fenomena Gerhana Matahari dan Bulan dapat dijadikan patokan dalam perhitungan bulan, mengamati dan menghitung fase-fase pergerakan bulan, berpuasalah kamu bila terjadi pergantian bulan untuk kehati-hatian, agar ketika masuk awal Ramadan kamu sedang berpuasa,” pungkasnya. (*/Arman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini