Kemah Refleksi Akhir Tahun, Empat Banom PPP Hadir di Muntea Bantaeng
BANTAENG, UPOS – Muntea Highland, Kecamatan Uluere, Kabupaten Bantaeng, Minggu (28/12/2025), menjadi tempat sebagai sarana dimana para Pengurus Badan Otonom (Banom) Partai Persatuan Pembangunan (PPP), melaksanakan kegiatan kemah refleksi, di akhir tahun.
Mengusung tema kegiatan ‘Kami Lahir Kami Ada Kami Bekerja’ kata inilah, yang menjadi spirit bagi para pengurus Banom yang hadir pada kegiatan tersebut. “Sekitar 95 peserta dari 4 Pengurus Badan Otonom dari PPP kali ini, meramaikan kegiatan kemah refleksi akhir tahun 2025, memadati lokasi Muntea Highland, meski cuaca yang sedikit kurang memungkinkan,” tutur Ketua WPP Nur Wahidah, di sela-sela kegiatan kemah refleksi.

“Selain dari pada kemah, kami dari pengurus Banom juga melakukan serangkaian kegiatan, diantaranya diskusi dan Out bound,” katanya.
Ditempat yang sama, Ivan, pengurus Banom dari GPK menyatakan, bahwa kemah refleksi ini merupakan agenda tahunan selain dari pada kegiatan sosial lainnya.
“Diskusi ini merupakan salah satu agenda yang terpenting karna pada diskusi inilah kami bersama dengan pengurus Banom lainnya membahas program-program kegiatan yang sekarang dan untuk yang akan datang, serta ini merupakan evaluasi dari beberapa kegiatan kami di tahun ini dan perencanaan kegiatan kami pada tahun selanjutnya,” ungkapnya.
Kegiatan ini turut di hadiri oleh beberapa Anggota Dewan Praksi PPP, yakni Marzuku Hasan, Andi Ramlah dan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bantaeng Hj. Jumrah, yang juga telah memberikan support dan dukungannya.
“Selain itu masih ada agenda yang sempat kami bahas dan rencanakan di akhir tahun ini, agenda ini adalah salah satu program peduli kami juga terhadap lingkungan dan kondisi Kabupaten Bantaeng. Namun, kami masih menunggu koordinasi dengan Ibu Ketua DPC PPP Dra. Hj. Andi Sugiarti Mangun Karim untuk mempersiapkan segala sesuatunya sebelum kami melaksanakan kegiatan itu,” tutup Fahmy, selaku Sekertaris GMPI.
Diakhir kegiatan Outbound, Etti pengurus inti dari AMK, mengatakan, kami tutup dengan game, di mana game ini menceritakan perjuangan dan kerja keras seorang Ibu, untuk tetap mempertahankan sebuah komitmen untuk suatu perubahan.
“Meski berbagai macam goncangan dan badai yang menghantam, namun tetap tegar menghadapi badai itu. Pada game itu, lilin digunakan sebagai media game yang menggambarkan suatu penerang bagi kami semua untuk tetap bersama, kuat dan komitmen,” pungkas Etti. (Aidil)


Tinggalkan Balasan