Outlook Media 2026, Dewan Pers Soroti Tantangan Integritas dan Perubahan Peran Media di Era Digital
Foto : Istimewa
JAKARTA, UPOS – Bisnis media, di tengah gempuran media sosial dan pemengaruh (influencer), menjadi sorotan utama dalam kegiatan Outlook Media 2026, diselenggarakan oleh Dewan Pers, di Hall Dewan Pers, Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Kegiatan ini, mengusung tema “Memandang Masa Depan Media: Sinergi Bisnis, Tren Periklanan, dan Integritas di Era Hiper-Konektivitas”.
Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat, mengatakan kegiatan ini sengaja diselenggarakan di awal tahun, sebagai upaya memberikan orientasi dan refleksi terhadap masa depan kehidupan pers nasional.

Foto : Istimewa
“Pers pada dasarnya adalah reflektor atau cermin yang memantulkan apa yang terjadi, baik di pemerintah maupun di masyarakat,” ucap Komaruddin, melalui sambutannya.
Ia mengingatkan, bahwa kepercayaan menjadi isu krusial di era digital saat ini. “Pertanyaannya sekarang, kepada siapa publik percaya? Masyarakat kini memiliki media sosial dan menguasai akun pribadinya masing-masing. Di sisi lain, pers juga menjadi instrumen bisnis yang memerlukan keberlangsungan ekonomi,” terangnya.
Komaruddin menjelaskan, peran Dewan Pers saat ini lebih bersifat orkestratif di tengah sulitnya mengendalikan arus informasi di media sosial.
“Dewan Pers itu seperti dewan perwakilan rakyat. Ia menjadi ruang berbicara dan pengimbang di tengah ekosistem media yang sangat cair,” katanya.
Menurutnya, dinamika perkembangan media yang melalui beberapa fase sejarah. Fase pertama, sekitar akhir 1970-an, media berperan sebagai instrumen nation state building dan menjadi rujukan utama masyarakat, kampus, dan pemerintah.
“Fase kedua, sekitar 1990-an, penetrasi bisnis mulai masuk ke media. Iklan meningkat dan mempengaruhi produk pers,” ujarnya.
Sedangkan fase ketiga, kata Komaruddin, adalah era demokrasi liberal yang ditandai dengan perkembangan teknologi digital dan kapitalisme pasar. Dalam fase ini, relasi media dan politik kian kompleks, di mana keduanya saling membutuhkan sumber daya dan eksposur.
“Politisi membutuhkan media untuk menaikkan rating, sementara media juga berhadapan dengan tuntutan pasar,” jelasnya.
Ditempat yang sama, Menteri Komunikasi dan Digital melalui Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media, Fifi Aleyda Yahya, menyampaikan apresiasi kepada insan pers, yang tetap menjalankan perannya di tengah perubahan teknologi yang cepat dan tekanan ekonomi yang berat.
“Berbicara masa depan media hari ini, kita tidak bisa melihatnya dari satu sisi. Keberlanjutan bisnis, dinamika periklanan, dan integritas jurnalistik saling terkait, terutama di era hiper-konektivitas,” beber Fifi.
“Ketika bicara media, kita bicara keberlanjutan bisnis. Saat ini media menghadapi tantangan serius di tengah maraknya influencer dan platform media sosial,” kata Fifi, yang mewakili Menkomdigi Meutya Hafid.
Fifi menyoroti kecenderungan ekosistem informasi, yang lebih mengedepankan kecepatan ketimbang ketepatan.
Dikatakannya, media dihadapkan pada pilihan mendasar: sekadar mengikuti arus atau tetap berpegang pada kompas jurnalistik.
“Salah satu tantangan paling terasa adalah periklanan. Banyak keputusan iklan kini diukur dari klik dan algoritma. Trafik tidak lagi sekadar soal eksistensi, tetapi juga berkaitan langsung dengan kesejahteraan media,” paparnya.
Namun demikian, Fifi menekankan, integritas tidak boleh dilepaskan dari praktik jurnalistik. Kecepatan, harus tetap diiringi dengan konfirmasi dan verifikasi sebagai fondasi membangun kepercayaan publik (public trust).
“Eksistensi media bukan hanya soal kepercayaan publik, tetapi juga keberlangsungan bisnis dan iklan. Pers yang berintegritas adalah harapan kita bersama, sebagai ruang publik yang menyediakan informasi yang sehat dan berkeadilan,” tegas Fifi Aleyda Yahya.
Disampaikannya, komitmen pemerintah untuk menjaga pers, agar tetap demokratis, sehat, dan berkelanjutan secara ekonomi. “Salam hormat dari Ibu Meutya Hafid. Semoga diskusi ini membantu media tetap sehat secara bisnis dan konsisten menjaga integritas,” ungkapnya.
Dalam kegiatan Outlook Media 2026 ini, juga turut hadir sejumlah narasumber, diantaranya Direktur Utama Emtek Media (SCM Tbk) Sutanto Hartono, Ketua Umum Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) Adi S. Noegroho, dan Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi. (*/)


Tinggalkan Balasan