Reel Density Analysis Kepadatan Simbol Mahjong Ways 2 Scatter Trigger Mapping Free Spin Mahjong Ways 2 Symbol Volatility Study Pola Pembayaran Mahjong Ways 2 Grid Expansion Effect Multiplier Mahjong Ways 2 Wild Frequency Mapping Distribusi Simbol Wild Mahjong Ways 2 Cluster Formation Index Pembentukan Klaster Simbol Mahjong Ways 2 Reel Transition Pattern Mode Free Spin Mahjong Ways 2 Multiplier Growth Model Dinamika Pengali Mahjong Ways 2 Symbol Drop Probability Probabilitas Simbol Tinggi Mahjong Ways 2 Spin Cycle Observation Pola Siklus Spin Mahjong Ways 2 Analisis Pola Momentum Spin Mahjong Wins 3 Fase Potensial Pendekatan Observatif Transisi Ritme Gates of Olympus Studi Dinamika Simbol Wild Konsistensi Sesi Digital Strategi Adaptif Pola Sesi Panjang Mahjong Wins 3 Analisis Sinkronisasi Visual Ritme Gates of Olympus Membaca Pola Scatter Aktif Indikator Perubahan Fase Pendekatan Sistematis Identifikasi Stabilitas Sesi Slot Digital Peran Variasi Tempo Spin Alur Permainan Mahjong Wins 3 Analisis Perubahan Pola Simbol Momentum Gates of Olympus Studi Ritme Interaksi Simbol Dinamika Sesi Digital

Ujungpandang Pos

Peka, Berani & Jujur

Inovasi dan Kreatifitas, Jusuf Kalla Tekankan Peran Universitas Hadapi Tantangan Ekonomi-Teknologi

|

JAKARTA TIMUR, UPOS – Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla, menekankan pentingnya peran universitas dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, berakhlak, serta mampu menguasai teknologi untuk menghadapi tantangan ekonomi dan perkembangan global.

Hal tersebut disampaikannya, saat memberikan sambutan, pada Dies Natalis ke-28 Universitas Paramadina, di Kampus Universitas Paramadina, Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (21/1/2026).

Dalam sambutannya, Jusuf Kalla menyampaikan rasa syukur atas perjalanan 28 tahun Universitas Paramadina yang dinilainya sebagai hasil dari perjuangan panjang para pendiri dan civitas akademika.

Ia mengibaratkan, Paramadina seperti seseorang yang setelah lama “hidup kos-kosan”, akhirnya memiliki rumah sendiri sebagai simbol kematangan institusi.

“Suatu negara hanya bisa maju dengan kemampuan manusianya. Sumber daya alam saja tidak cukup tanpa sumber daya manusia yang baik, berakhlak, dan berpikir maju,” ujar Jusuf Kalla, melalui keterangannya.

Ia mengingatkan, bahwa Universitas Paramadina didirikan pada 1997, periode yang berdekatan dengan krisis ekonomi nasional 1998. Menurutnya, kondisi ekonomi global dan nasional saat ini memiliki kemiripan, sehingga menuntut kewaspadaan dan kebijakan yang tepat agar tidak berkembang menjadi krisis yang lebih besar.

Jusuf Kalla juga menyoroti peran perguruan tinggi, sebagai pusat pemikiran kritis dan intelektual. Ia menilai, universitas tidak cukup hanya mencetak lulusan bergelar, tetapi harus melahirkan generasi yang kreatif, inovatif, dan solutif terhadap persoalan bangsa.

“Kalau kita hanya mengejar gelar, itu tidak cukup. Bangsa ini membutuhkan orang-orang yang kreatif dan inovatif,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menekankan, bahwa masa depan dunia akan sangat ditentukan oleh kebijakan dan teknologi, termasuk perkembangan teknologi informasi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Menurutnya, teknologi yang tidak diiringi kebijakan dan pemahaman yang baik, justru dapat menjadi ancaman.

“Jangan kita dikalahkan oleh teknologi. Kita harus mengendalikan teknologi, dan untuk itu kita harus memahaminya,” kata Jusuf Kalla.

Dalam konteks ketenagakerjaan, ia menyinggung fenomena tingginya angka lulusan perguruan tinggi yang belum mendapatkan pekerjaan layak. Ia menyebutkan, bahwa sebagian lulusan sarjana bekerja di sektor informal, yang menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara pendidikan dan kebutuhan ekonomi.

Oleh karena itu, ia mendorong universitas, termasuk Universitas Paramadina, untuk lebih produktif, adaptif, dan berorientasi pada kebutuhan nyata masyarakat dan bangsa. Perguruan tinggi diharapkan tidak hanya menjadi tempat mencari ijazah, tetapi juga pusat pembentukan karakter, inovasi, dan kepemimpinan intelektual.

Menutup sambutannya, Jusuf Kalla mengajak seluruh civitas akademika, untuk terus berkontribusi positif bagi bangsa dan negara serta menjadi bagian dari solusi atas tantangan ekonomi dan politik yang dihadapi Indonesia saat ini.

“Dalam kondisi ekonomi dan politik yang menantang, kita harus menjadi solusi, bukan bagian dari masalah,” pungkasnya. (*/Arman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini