BMKG : Peringatan Dini Gelombang Tinggi Perairan Sulawesi Selatan hingga 22 Januari 2026
MAKASSAR, UPOS – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), melalui Stasiun Meteorologi Kelas II Maritim Paotere Wilayah IV Makassar, pada Minggu (18/1/2026), telah mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi gelombang tinggi yang signifikan di sejumlah perairan wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel).
Peringatan ini, berlaku efektif hingga tanggal 22 Januari 2026.
Prakirawan BMKG Paotere, Muhammad Wira Pratama, menyampaikan bahwa peringatan dini ini dikeluarkan sebagai langkah antisipasi terhadap kondisi cuaca laut, yang berpotensi membahayakan aktivitas pelayaran dan masyarakat pesisir.
Sebanyak 13 wilayah perairan di Sulsel, tercatat masuk dalam daftar area yang berpotensi terdampak oleh gelombang tinggi tersebut.
Menurut penjelasan BMKG, fenomena gelombang tinggi ini dipicu oleh kondisi sinoptik yang teramati. Terdapat daerah konvergensi yang memanjang di wilayah Selat Makassar hingga Laut Flores bagian timur.
Konvergensi ini, merupakan pertemuan massa udara yang cenderung menyebabkan peningkatan aktivitas atmosfer, termasuk peningkatan kecepatan angin. Peningkatan kecepatan angin inilah yang secara langsung berdampak pada ketinggian gelombang laut.
“Secara umum, pola angin di perairan Sulawesi Selatan saat ini bertiup dari arah Barat Daya hingga Barat Laut dengan kecepatan yang cukup bervariasi, berkisar antara 5 hingga 35 knot,” demikian tertulis, dalam keterangan resmi yang dirilis oleh BMKG.
Kecepatan angin yang mencapai hingga 35 knot ini merupakan indikasi adanya potensi gelombang dengan ketinggian yang cukup signifikan. BMKG mengimbau kepada seluruh pihak, terutama para nelayan, operator kapal niaga, pengguna jasa transportasi laut, serta masyarakat yang beraktivitas di wilayah pesisir dan pulau pulau kecil di 13 wilayah perairan yang terdampak, untuk selalu waspada dan memantau perkembangan informasi cuaca maritim terbaru dari BMKG.
Penting bagi masyarakat untuk memperhatikan peringatan ini, demi keselamatan bersama. BMKG terus melakukan pemantauan intensif terhadap dinamika atmosfer dan laut untuk memberikan informasi terkini dan mitigasi risiko bencana hidrometeorologi.
Rincian Peringatan Dini :
Jenis Fenomena: Gelombang Tinggi
Tanggal Berlaku: Mulai 18 Januari 2026 hingga 22 Januari 2026
Penyebab: Adanya daerah konvergensi di Selat Makassar hingga Laut Flores bagian timur, memicu peningkatan kecepatan angin
Pola Angin: Bertiup dari arah Barat Daya hingga Barat Laut
Kecepatan Angin: Berkisar antara 5 hingga 35 knot
Wilayah Terdampak: 13 wilayah perairan di Sulawesi Selatan.
Parameter yang Perlu Diperhatikan :
Arah Angin: Barat Daya hingga Barat Laut
Kecepatan Angin: 5 35 knot (sekitar 9 65 km/jam).
Wilayah terdampak, kecepatan angin dan gelombang tertinggi terpantau di sejumlah perairan, antara lain Perairan Pinrang, Barru, Pangkep, Makassar, Jeneponto, Bulukumba, Kepulauan Selayar, Kepulauan Takabonerate, Sinjai, Wajo, Bone, Luwu, dan Luwu Utara.
BMKG memprakirakan tinggi gelombang 1,25 hingga 2,5 meter berpeluang terjadi di perairan Pinrang, Pangkep, Jeneponto, Barru, Makassar, Bulukumba, Sinjai, Bone, Wajo, Luwu, Luwu Utara, Kepulauan Selayar, serta Kepulauan Takabonerate.
Sementara itu, gelombang lebih tinggi dengan kisaran 2,5 hingga 4,0 meter berpotensi terjadi di perairan Kepulauan Takabonerate dan Kepulauan Selayar.
BMKG mengimbau seluruh pengguna jasa kelautan dan pelayaran untuk meningkatkan kewaspadaan. Kondisi gelombang tersebut dinilai berisiko terhadap keselamatan pelayaran, khususnya bagi perahu nelayan saat kecepatan angin mencapai 15 knot dan tinggi gelombang 1,25 meter.
Selain itu, kapal tongkang berisiko terdampak pada kecepatan angin 16 knot dengan tinggi gelombang 1,5 meter, sedangkan kapal feri perlu mewaspadai kondisi saat angin mencapai 21 knot dan tinggi gelombang 2,5 meter.
Ketinggian Gelombang (Perkiraan berdasarkan kecepatan angin): BMKG akan merilis informasi ketinggian gelombang spesifik secara berkala, namun kecepatan angin hingga 35 knot umumnya dapat menghasilkan gelombang dengan ketinggian sedang hingga tinggi.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak mengambil risiko yang tidak perlu dan selalu mengutamakan keselamatan.
BMKG pun meminta masyarakat pesisir, nelayan, dan operator pelayaran untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca maritim terkini serta menunda pelayaran jika kondisi dinilai tidak aman. (*/Arman)


Tinggalkan Balasan